4 Tokoh Kesehatan Wanita Indonesia yang Menginspirasi

2021 Mar 08

Kalau ngomongin soal tenaga medis saat pandemi kayak sekarang ini, apa sih hal pertama yang kamu ingat? Yup, seperti yang kita tahu, saat ini profesi tenaga medis emang paling dibutuhkan untuk jadi garda terdepan dalam menghadapi pandemi. Makanya, salut banget sama mereka yang bekerja di bidang kesehatan.

Sebagai apresiasi untuk memperingati Hari Wanita Sedunia, Diasweet akan ajak kamu untuk berkenalan dengan 4 tokoh wanita Indonesia yang berjuang demi kesehatan banyak orang.

Nafsiah Mboi (Dokter Spesialis Anak dan Mantan Menteri Kesehatan)

Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH adalah seorang dokter spesialis anak yang juga ahli di bidang kesehatan masyarakat. Beliau menyelesaikan studinya di Indonesia, Belgia, dan Amerika Serikat. Terlihat dari beberapa gelar yang diraih, Nafsiah memiliki pengalaman karier yang panjang.

Ia pernah menjabat Ketua Komite PBB untuk Hak-hak Anak (1997-1999), Direktur Department of Gender and Women’s Health di WHO (1999-2002), dan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (2006-sekarang). Nafsiah juga menduduki kursi Anggota DPR/MPR RI untuk periode 1992-1997. Selain itu, lebih dari 70 karyanya dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris telah dipublikasikan. Sebanyak 20 di antaranya adalah makalah dan artikel.

Nafsiah dikenal sebagai sukarelawan dan pekerja masyarakat sejak masih berstatus sebagai pelajar. Selain itu, Nafsiah pun aktif menyuarakan program keluarga berencana. Ia mendedikasikan diri untuk upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia. Beliau juga tercatat sebagai salah satu pendiri Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak Indonesia, anggota Komnas HAM, dan Wakil Ketua Komnas Perempuan. Nggak heran kan kalau Ibu satu ini dianggap sebagai tokoh kesehatan Indonesia.

Hasri Ainun Habibie, Pendiri Bank Mata Indonesia

Selanjutnya adalah Ibu Hasri Ainun Habibie, atau yang lebih dikenal sebagai Ainun Habibie. Pasti udah nggak asing lagi buat kamu yang mengikuti kisahnya yang diangkat ke layar lebar. Ibu Ainun memang sudah tutup usia pada tahun 2010, namun jasa besarnya akan selalu dikenang terutama dalam dunia medis Indonesia.

Beliau memperoleh gelar dokternya pada 1961 dari Universitas Indonesia, dan pernah bekerja di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Salemba, Jakarta Pusat. Istri Presiden Indonesia Ke-3, B.J. Habibie ini, pernah menjabat sebagai Ketua Perkumpulan Penyantun Mata Tunanetra Indonesia (PPMTI) Pusat pada 2010. 

Kehadiran Bank Mata yang didirikan Ibu Ainun sempat menjadi kontroversi di Tanah Air. Ia kemudian memperjuangkan lahirnya regulasi untuk donor mata. Fatwa halal bagi donor mata merupakan buah perjuangan Ibu Ainun, lho. Sebelum wafat, beliau berpesan agar kelangsungan kegiatan Bank Mata dipertahankan. Ia berharap masyarakat menumbuhkan budaya mendonorkan kornea.

Bank Mata telah banyak membantu tunanetra dari keluarga tidak mampu. Para penderita kebutaan akibat kerusakan kornea pada umumnya berasal dari kelompok masyarakat miskin. Perjuangannya sangat menginspirasi, ya!

Melly Budhiman, Ketua Yayasan Autisma Indonesia

“Berawal dari ketidaksengajaan”, mungkin istilah itulah yang tepat menggambarkan alasan mengapa dr. Melly Budhiman SpKJ yang merupakan seorang psikiater anak, kini lebih memfokuskan diri pada anak-anak dengan sindrom autistik.

Sebelumnya dr. Melly kerap menulis artikel tentang dunia kesehatan Indonesia anak di beberapa media. Selanjutnya pada 1994, ada salah satu kantor media yang memintanya untuk menulis artikel tentang autisme. Karena saat itu belum banyak informasi yang bisa diperoleh publik mengenai autisme, ia pun menyetujuinya. Beliau biasa merujuk pada teori-teori lama untuk menjelaskan autisme, termasuk gejalanya. Sampai akhirnya di tahun 1997, Melly dan rekan-rekannya mendirikan Yayasan Autisma Indonesia (YAI) yang melayani kebutuhan anak-anak dengan spektrum autis. 

Siti Sumiati, Bidan Apung di Kepulauan Seribu

Siti Sumiati yang lebih akrab dipanggil “Sum” adalah wanita kelahiran Madiun tahun 1952. Ia memulai tugasnya sebagai bidan di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, pada 1971. Dengan keterbatasan fasilitas, Ia tetap semangat melayani masyarakat di sana.

Dalam menjalankan profesinya, beliau menggunakan ojek kapal. Tak jarang, ombak harus diterjangnya saat mengunjungi warga. Berkat kegigihannya, tingkat angka kematian ibu melahirkan di Kepulauan Seribu semakin berkurang setiap tahunnya. Sungguh luar biasa, ya!

Ketangguhan beliau menjalani profesinya mendapat apresiasi dari World Health Organization (WHO) pada 2008. Di depan Kongres Bidan Sedunia di Glasgow, Skotlandia, Ibu Sum menceritakan kisahnya sebagai bidan di Kepulauan Seribu. 

 

Semoga kita sebagai generasi penerus bisa mengikuti semangat berjuang para wanita tangguh ini, sesuai dengan bidang kita masing-masing. Jadi, dari keempat tokoh kesehatan wanita di atas, siapa nih yang paling menginspirasi kamu?

Comment

Konimex adalah salah satu industri farmasi terbesar di Indonesia. Selain memperkuat industri farmasi, Konimex memperluas jaringan bisnis ke beberapa bidang lain yang berkaitan dengan kesehatan, dengan memanfaatkan esensi bahan alami dalam setiap produknya.  Baca Selengkapnya

KONIMEX © Copyright 2014